Catatan:Hari itu tika dia pergi meninggalkan aku, aku tidak tahu saat tepat dia pergi. Aku tidak mendengar derap langkahnya berlalu. Tanpa memberi salam buat kali terakhir, dia menghilang. Di pertemuan pagi itu, aku sedang berjalan kaki menuju ke perhentian bas berhampiran untuk menaiki bas ke tempat kerja. Dia menyatakan akan pergi jauh dan tidak akan pergi jika aku menerimanya kembali.
Aku tetap dengan pendirianku tidak akan kembali lagi padanya setelah dia memisahkan aku darinya dengan ungkapan keramat itu, beberapa bulan sebelumnya. Dia yang mencatas ikatan murni itu, dia yang mencarik kasihku, menghancurkan jiwaku, dia yang membuangku dari hidupnya tanpa memikirkan nasibku dan nasib anakku yang masih terlalu kecil.
Hari tu sentiasa segar diingatanku bagaikan baru saja terjadi, kasihku yang bergunung terhempas begitu saja dek ungkapannya itu bagaikan hukuman mati. Aku terkedu, tanpa tanggis aku menerimanya pasrah. Dia meninggalkan aku bersama si kecil tanda kasih kami. Meninggalkan aku memikul tanggungjawab sebagai ibu dan ayah pada anakku. Dia pergi jauh hingga tidak ku tahu dimana tempatnya.
Dia meninggalkan aku begitu saja tanpa pesan, tanpa tempat tinggal, tanpa wang untuk meneruskan hidup tanpa apa pun yang berharga. Untung tika itu aku masih berkerja, dengan wang gaji yang tidak seberapa, aku meneruskan hidupku. Membela dan menyara anak kecil kami seorang diri. Aku berusaha mendapatkan tempat tinggal, aku mohon untuk menyewa rumah bantuan kerajaan. Aku terpaksa menunggu hingga enam bulan proses mendapat rumah sewa tersebut. Akhirnya aku dapat juga, alhamdulillah...
Perginya dia, aku belajar mengurus kehidupanku sendiri bersama si kecil. Walaupun jiwa ku teramat sakit dan kecewa diperlakukan begitu, aku terus berusaha sedayaku mencari rezeki untuk menyara kehidupanku dua beranak.
Sejak ketiadaannya aku bertekad tidak akan mengaku kalah dengan keadaanku, biar apa pun halangan, biar perit dan payah kehidupan yang kulalui, aku tetap akan bangun dan tidak akan menanggisi nasib berterusan. Bila ku melihat wajah comel, senyuman dan tawa anakku, ianya menguatkan jiwaku menyuntik semangatku untuk menghadapi apa saja yang mungkin datang.
Pernah dalam saat sukar, waktu sendirian berdua dengan anakku di malam hari, di bilik sewa yang sangat kecil, aku menanggis. Entah mengapa malam tu, bila terkenangkan nasib kami, aku merasa sangat sayu. Kucium pipi lembut anakku yang sedang lena tidur berkali-kali, harum baunya meresap ke jiwaku. Perasaan sayangku melimpah untuknya, aku berbisik perlahan…"Walau susah macam mana pun, kita akan tetap bersama nak. Mama tak akan biarkan imal. Mama tak akan tinggal kan imal. Mama sayang imal." Kataku sendiri, bagaikan berjanji pada anakku dan diriku.